Senin, 09 Maret 2009
Do not be late, ok?!
Tapi sumpah itu bikin bete banget, apalagi kalo dari awal emang udah niat buat ikut. Sama sekali bukan faktor yang disengaja. Ini murni karena takdir! You know what I mean khan? (fufu..membela diri sambil meyalahkan keadaan).
Yahh..tapi pada dasarnya telat itu memang merugikan. Salah-salah malah kita yang kena. So guys, sebisa mungkin jangan pernah telat yaa.. Itu penting buat mengatur mood kita sebelum acara yang sebenarnya dimulai. Kalo perlu datang satu jam lebih awal. Percayalah, itu akan lebih baik daripada kamu harus membuang kesempatan baik hanya gara-gara kamu teledor!
*serious*
Minggu, 08 Februari 2009
Kenali Kecerdasanmu
Banyak sekali hal menakjubkan terjadi dalam hidup kita. Kadang kala malah di luar nalar, hal-hal yang semestinya terjadi malah tidak terjadi. Seperti cita-cita menjadi dokter di masa kecil, tapi nasib mengharuskanku untuk menjadi calon akuntan (beda jauh khan?). Begitu keterima beneran di akuntansi, malah jadi bingung sendiri (secara ngitungin duit maya tiap hari! Mending kalo duit beneran apalagi milik sendiri, hoho!). Makanya kenali dulu bakat dan minatmu, sebelum memilih suatu jurusan apalagi cita-cita! Tanpa melalui tes IQ, sebenarnya kamu udah tahu bakatmu dari hobi atau kebiasaan yang kamu lakukan kok. Dalam sebuah buku1 yang barusaja kubaca (untuk yang kedua kalinya), aku menemukan hal menarik untuk diulas. Profesor dari Harvard, Howard Gardner, yakin bahwa setidaknya ada sepuluh kecerdasan, atau bahkan lebih (karena teori tentang kecerdasan majemuk terus berkembang). Lantas, kecerdasan mana yang kamu punya?
- Kecerdasan linguistik. Kamu merasa asik dengan kegiatan menulis, membaca, menyimak, dan berbicara, dan kamu melakukannya dengan santai. Kamu suka menghafal informasi dan menambah kosakata, dan mungkin kamu adalah seorang yang jago bercerita.
- Kecerdasan musikal. Kamu bisa mendeteksi ritme, pola, dan tempo pada hal-hal yang tampaknya tak memiliki faktor-faktor tersebut, seperti kicauan burung, suara jengkerik, dan bahkan musik tempo dulu yang disukai orang tuamu. Kamu bisa ”mendengar” nada dan titinada, dan mungkin kamu punya bakat dalam memainkan satu alat musik atau lebih, baik itu hanya dengan mendengarkan maupun lewat instruksi. Kamu bisa jadi suka banyak jenis aliran musik.
- Kecerdasan logika-matematika. Kamu secara naluri meletakkan segala sesuatu di tempatnya dan mampu memahami penjumlahan yang sering kali di luar kepala. Angka dan rumus matematika adalah hal sepele bagimu, dan kamu gandrung dengan permainan yang menantang otak, permainan logika, game dan komputer.
- Kecerdasan visual-spasial. Kamu langsung tahu kalau sebuah bangunan (atau lukisan atau orang) kurang simetris. Kalau kamu atlet, kamu bisa menentukan dengan hampir sempurna berapa derajat yang dibutuhkan untuk mencetak angka pada permainan hoki atau bola basket. Kamu mampu secara mental memutarbalikkan bentuk-bentuk yang rumit, dan kamu bisa menggambar apa pun yang kamu lihat. Kamu jago membongkar dan merangkaikan kembali barang-barang, dan kamu demen game.
- Kecerdasan tubuh-kinestetik. Kamu jago menangani dan memanipulasi objek, dan kamu mampu menggerakkan tubuh dengan anggun dan santai. Kamu suka sekali melatih tubuh hingga mencapai kondisi terbaik, dan kamu mungkin bisa menirukan orang lain dengan sempurna. Kamu mungkin berbakat, dalam satu jenis kerajinan tangan atau lebih, seperti memahat, menenun, menjahit.
- Kecerdasan interpersonal. Kamu bisa memahami orang lain dengan mudah, mengetahui suasana hati dan perasaan mereka. Kamu seorang pemimpin alami dan mediator yang andal. Kamu bisa menghentikan pertengkaran antara dua temanmu dan masih bisa menjalin hubungan yang baik dengan keduanya.
- Kecerdasan intrapersonal. Kamu paham betul tentang dirimu sendiri. Kamu amat mengerti akan perasaan, mimpi, dan ide yang kamu miliki, dan kamu setia pada sasaran hidupmu. Orang-orang mungkin bilang bahwa kamu ” bukan dirimu yang sebenarnya”. Kamu suka menulis catatan harian.
- Kecerdasan naturalis. Kamu merasakan adanya kaitan yang dalam dengan jagat raya dan penghuninya (tumbuhan dan binatang). Kamu suka meneliti dan mengamati dunia luar.
- Kecerdasan eksistensial. Kamu suka sekali dan punya bakat bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan sulit, seperti hakikat hidup dan mati, siapa kita sebenarnya, kenapa dunia bisa tercipta.
- Kecerdasan spiritual. Kamu amat sensitif dan memiliki minat pada hal-hal yang bersifat spiritual dan religius. Kamu mengalami pengembaraan spiritual dan pencerahan. Kamu bisa merasakan ”kehadiran” mahluk lain.
Nah lo, sekarang bingung khan sebenarnya bakatmu ada di mana? Soalnya dari sekian banyak kecerdasan yang diulas di sini, bisa saja kita masuk ke dalam beberapa kategori kecerdasan tersebut (termasuk aku, hehe). Tentunya bahasan di atas juga sesuai untuk para orang tua yang sedang berusaha mengenali bakat putra-putrinya. Mudah-mudahan bermanfaat! ^^
1 Espeland, Pamela. 2003. Buku Pintar Remaja Gaul. Bandung: Kaifa.
Selasa, 03 Februari 2009
Nida di mana
Tau lagunya Dinda Di Mana khan? Itu loh, yang dinyanyiin sama Katon Bagaskara di era 90-an. Nah, aku punya obsesi tersendiri sama lagu itu.
Mm..mm..
(malu ngomongnya)
mmmmmmmmm.. (hehe..masih malu)
mmmmmmmmmmmmmmmm.... (udah buruan ngomongnya!)
mm..jadi begini, aku punya obsesi buat ngganti nama Dinda di atas jadi Nida. Hehe, ngarep banget khan, bin nggak penting! Kayaknya romantis aja gitu kalo ada yang nyanyiin buat aku. Mwahahahaha! Saking mupengnya, sampai-sampai ringtone hapeku kupakein lagu itu. Hehe! Lagian mirip-mirip juga khan namaku sama Dinda. (beruntung banget si Dinda dibuatin lagu, jadi iri. Hiks!).
Nida di manakah kau berada?
Rindu aku ingin jumpa
Meski lewat nada...
Perhaps someday.. (dream on!)
*btw, kalo ada yang mau repot2 menciptakan lagu baru atau menggubah lagu tersebut dengan nama Nida dengan senang hati aku akan menerimanya, haha! ^^
Selasa, 27 Januari 2009
Lebam di tubuh
Akhir-akhir ini aku dapet pengalaman aneh. Bukan, bukan ketemu dedemit atau sejenisnya. Tapi kalo aku bangun tidur, aku sering mendapati tubuhku penuh lebam. Serius! Terutama dibagian tangan dan kaki. Memar gitu. Anehnya, sebelumnya aku nggak merasa pernah jatuh, kejedot, kesodok atau ngalamin kejadian-kejadian lain yang bisa bikin tubuhku lebam gini. Masak iya, aku tidurnya over acting? Berontak sana, berontak sini. Rasanya kok nggak mungkin buat orang sekalem aku. Hehe!
Hmm..aku jadi curiga sama ibu dan kedua adekku nih. Sapa tau mereka punya dendam pribadi ke aku. Trus waktu aku tidur mereka sebenarnya melakukan upaya pembunuhan diam-diam terhadap aku yang imut ini (tega banget sih). Mungkin aja selama tidur aku digebukin pake balok, ditimpukkin batu kali, atau dibekap pake bantal biar nggak bisa napas! (wahh2..ketauan maniak film sadis nih).
Atau jangan-jangan, malah aku yang melukai diriku sendiri. Kalo diliat dari kemungkinan apa yang telah dilakukan ibu dan kedua adekku sih mungkin aja, keturunan psiko! Hehe!
Aku nggak merasa kesakitan pas tidur. Juga nggak ngerasa pernah jatuh sebelumnya. Jadi aneh aja kalo tiba-tiba muncul lebam gitu. Cepet ilang sih, tapi juga cepet muncul lagi. Biasanya kulit disekeliling lebam tadi bakal menguning, mirip kalo kulit lagi dikasih revanol (itu loh, obat pengering luka). Ya..semoga ini cuma ketakutanku aja. Bisa aja lebam tadi cuma efek dari kecapekan biasa.
Kalo ada pembaca yang tau atau pernah punya pengalaman serupa, mohon bantuannya ya.. Lewat komentar atau cbox juga boleh, tapi kalo agak private bisa dikirim via imel ke andprasetya@gmail.com. Ditunggu responnya ya.. Makasi.. ^^
Sabtu, 24 Januari 2009
Tentang SEF..
Sebenarnya baru beberapa jam berselang dari muktamar VIII SEF sewaktu mengetik postingan ini. Entah kenapa rasanya ada yang hilang (ceile) ketika menyadari bahwa diri ini tidak lagi menjadi bagian dari SEF. Mungkin karena hampir selama tiga tahun ini aku dibesarkan dalam sebuah keluarga yang bisa bikin aku homy banget selain di rumah.
SEF adalah sebuah lembaga keilmuan yang mengkaji tentang ekonomi islam (ekis). Meskipun demikian, orang-orang yang berada di dalamnya bisa beraneka ragam. Dari hanya yang sekedar ingin tahu, sedikit mengerti tentang ekis hingga golongan yang memang ingin berkontribusi nyata dalam kehidupan melalui ekis ini. Keanggotaannya juga tergolong fleksible karena tidak hanya terbatas pada muslim tapi kepada siapa saja yang memang tertarik untuk tahu bahkan mendalami ekis. Semuanya sama, meskipun untuk urusan yang krusial harus tetap di amanahkan kepada sesama muslim (Ahh..itulah indahnya islam! Hanya Allah lah yang berhak menentukan ketakwaan seorang manusia, meskipun dia telah beriman).
Menjadi SEFer sebenarnya hanya bermula dari ajakan kawan (tapi dianya sendiri malah ngilang di tengah jalan, dasar!). Nggak ada niatan untuk berorganisasi apalagi mempelajari ekonomi islam. Sebelumnya, di masa sekolah aku lebih suka ikut ekskul yang dirasa lebih bebas dan nggak terikat komitmen aneh-aneh (hanya untuk memenuhi nilai rapor). SEF adalah organisasi pertamaku.
Di sini aku bertemu orang-orang yang luarr biasa! Teman-teman yang solid, ilmu yang bermanfaat dunia-akhirat serta pengalaman hidup yang mengesankan! Semua menjadi pelajaran yang tak ternilai! (lohh..kok jadi lebai gini).
Satu hari..dua hari..tak terasa 2 tahun lebih membersamai SEF. Tiga kepengurusan yang berbeda memberi warna yang berbeda pula. Tapi semua punya tujuan utama yang sama. Warna-warni itulah yang membuat SEF lebih hidup. Setiap pergantian kepengurusan, corak agak sedikit diubah, demi terus melakukan perbaikan untuk SEF.
Terlepas dari program-program kerja yang telah dijalankan, setiap organisasi termasuk SEF pasti mempunyai budaya. Budaya inilah yang belum terlihat dari SEF. Sebagai organisasi keilmuan, budaya keilmuan orang-orang yang berada di dalamnya belum menonjol. Orang-orang SEF lebih ‘asyik’ menyelenggarakan kegiatan-kegiatan. Justru peran sebagai EO lah yang masih menonjol.
Satu budaya lagi yang perlu disoroti. SEF merupakan organisasi dakwah, meskipun berbeda dengan SKI. Identitas sebagai organisasi dakwah ini tidaklah mudah untuk disandang. Dari hal ini jugalah SEF menuai banyak kritikan. Orang-orang di dalam SEF dirasa belum mencerminkan keberadaan SEF sebagai organisasi dakwah.
Entah hanya perasaan, atau benar terjadi. SEF dirasakan oleh banyak anggota terlalu banyak kegiatan. Idealnya setiap anggota harus bisa menjalankan semua kegiatan tersebut. Dalam kenyataan, tidak semua kegiatan bisa dilakukan secara all out oleh anggota SEF. Sehingga penyerapan atas sesuatu yang disampaikan menjadi kurang maksimal. Anggota yang terlanjur putus asa banyak yang memilih untuk ‘diam’ atau menghilang dari peredaran. Kelelahan yang melanda banyak anggota juga berdampak pada keterlibatan mereka di SEF. Lelah bisa karena kegiatan SEF itu sendiri, organisasi di luar SEF, ataupun kepentingan akademis.
Dan setelah semua ini, seperti apakah amanah harus disikapi? Amanah seharusnya bukanlah suatu yang dirasakan sebagai beban yang memberatkan, bukan pula suatu kebanggaan terhadap prestasi, tapi keikhlasan dalam berjuang meraih tujuan. Tidak mudah memang. Keluh kesah hampir selalu ada, kelelahan sering menciutkan semangat, tidak tercapainya tujuan berbuah kebosanan, dukungan dari orang-orang yang diharapkan yang tidak selamanya ada. Tapi doa ini tetap terucap. Ketika hati serta pikiran manusia sudah tidak mampu lagi mencapai, bukankah pada Allah juga orang akan berserah.
Selamat berjuang adik-adikku..
Maafkan kami yang belum sepenuhnya bisa menjadi tauladan bagi kalian..
Semoga kita selalu diberi kesempatan untuk bisa berkontribusi bagi kejayaan umat..
Fight for islamic economics! Semangat!! ^^
* Sekjend Sharia Economics Forum UGM 2008, Mahasiswa Akuntansi 2006 UGM.
Jumat, 16 Januari 2009
Ralat : Westlife
maaf ya..
dimaafin khan? ^^
Hepi Nu Yirr! (telat!)
Senin, 15 Desember 2008
Tes Kepribadian Yang Aneh
Suatu siang, di sebuah tes wawancara calon asisten keuangan di sebuah lembaga bahasa..
Mbak-mbak kecil pewawancara : Jika kamu dilahirkan sebagai binatang, kamu pilih menjadi binatang apa? (pertanyaan yang aneh)
Aku yang lagi bela2in bolos kuliah : Mm..apa ya mbak? Kelinci sih imut tapi sok imut! Beruang lucu juga tapi serakah! (coba liat kalo dia lagi makan salmon). Lumba-lumba boleh juga, dia pinter dan bersahabat tapi aku nggak bisa renang! (Lah, apa hubungannya?!)
Pokoknya pas itu dengan asal2an aku jawab kalo AKU PENGEN JADI BURUNG!*
Mbak-mbak kecil pewawancara : Kenapa?
Aku yang lagi bela2in bolos kuliah : Kenapa ya? Mungkin karena aku pendek jadi pengen ngrasain jadi tinggi, burung khan bisa terbang! Apalagi dagingnya enak di makan! (tambah ngasal).
Eh, nggak dink, aku suka burung karena dia sayang sama anak-anaknya (nah, ini baru jawaban yang tulus). Si induk bela2in nyari makanan dan dibagiin secara adil ke anak2nya yang belum bisa terbang. Dengan sabarnya dia ngajarin terbang meskipun si anak suka meleng2 ntah karena nggak bisa terbang ato karena kebawa angin! Haha! Dia juga berusaha membuatkan sarang yang nyaman buat anak2nya di tempat yang sedemikian tingginya supaya jauh dari jangkauan pemburu atau pemangsa seperti ular! Dia bakal njagain anak2nya sampai dirasa sudah mandiri. Pokoknya representatif peran manusia banget! Apalagi elang, wuidihhhh!! Gagah banget! Pandangan matanya tajam sampai bisa tahu posisi si mangsa berada dan dia juga berani berduel dengan ular! Mungkin kalo diibaratkan si elang ini mirip sama ibuku. Superwoman, nggak ada matinya dah! Hehe..
Mbak-mbak kecil pewawancara : (ketawa-ketiwi ndengerin jawabanku, mungkin dia ngrasa nyesel udah salah ngrekrut orang)
Selanjutnya yang muncul adalah pertanyaan2 klise yang biasanya ada di setiap wawancara.
Apakah si burung wanna be ini akan diterima sebagai asisten keuangan??
Jawabannya adalah she does not know! Mungkin si mbak-mbak kecil pewawancara tadi malah bakal ngrekomendasiin dia (si burung wanna be) buat jadi asisten pakdenya yang kebetulan adalah seorang penggemar burung! Hiks!
* burung yang dimaksud tidak termasuk ayam (karena nggak bisa terbang tinggi) meski dia termasuk bangsa burung yang enak dimakan.