Senin, 28 Juli 2008

Senyum

Siang ini matahari terasa begitu bersahabat, pias cahayanya menentramkan. Mungkin efek dari hatiku yang sedang riang. Dengan ringan kulangkahkan kakiku yang sejak awal kuarahkan menuju kampus diploma FEB UGM. Tak ada amanah khusus yang membawaku ke sana. Hanya selapis harapan kegembiraan karena ’sedikit’ karuniaNya telah tersimpan baik2 untukku di sana.

Kudapati sebuah ruangan yang dibagian atasnya terpampang tulisan bagian keuangan.
Ruangan itu tidak terlalu besar tapi cukup untuk menampung berbagai file2 yang telah dibantex rapi, terlihat bahwa file2 itu memang sangatlah penting.
Kupandang sekeliling, seseorang yang ingin kutemui sedang berbincang serius. Tampak bahwa itu bukan permasalahan yang mudah, melihat kerutan yang sesekali timbul dikeningnya ketika lawan bicaranya berargumen. Ku coba untuk bersabar. Mungkin belum saatnya aku merepotkannya.

30 menit berlalu, ini saatnya aku menemuinya setelah memastikan bahwa perbincangan serius tadi telah benar2 usai.
Secara implisit aku mengutarakan maksud kedatanganku. Yang tak lain adalah ingin mengambil jatahku sebagai kompensasi keikutsertaanku dalam talkshow ekonomi syariah yang di gelar oleh LEBI UGM bekerjasama dengan kampus diploma lusa kemarin.
Wajah yang awalnya kukira tak bersemangat (mungkin efek dari perbincangan yang sedari tadi menyita banyak energinya) ternyata justru menyunggingkan senyum ramah yang tak bisa dilukiskan dengan kata2..

Sangat alami dan bersahabat! Subhanallah!!

Begitu juga dengan staf2 yang berada dalam ruangan kecil itu. Sama sekali tidak menandakan adanya kebosanan meski lelah telah merajai seharian, mengingat waktu ketika aku datang sudah sangat siang dan biasanya hanya sisa2 semangat yang masih ada kala itu.

Sungguh mengesankan! Jarang sekali aku menemukan momen2 yang bisa dibilang tidak istimewa, tapi jika dilakukan dengan niat dan hati ikhlas, hal sekecil apapun jadi terasa luar biasa.

Inilah kekuatan dari sebuah keikhlasan berbuat. Hanya bermodalkan seulas senyum kita bisa membuat hati siapapun terlena bahagia.

Tersenyumlah, dan setiap hati akan merasa dihargai karenanya. ^^

Minggu, 20 Juli 2008

Masakan Nyokap

Pernah seorang temanku bertanya tentang segelas teh yang barusaja kusuguhkan kepadanya ketika ia bertandang untuk ke sekian kalinya ke rumahku.
“Nid, minumnya sapa yang buat?” tanyanya hati2..
“Aku. Kenapa?” tanyaku dengan nada yang juga hati2..
“Ohh..pantes nggak kayak biasanya. Agak tawar, hehe!”
Uugh! I know that..
Untuk ke sekian kalinya aku meratapi nasibku yang kurang mujur dalam urusan dapur-mendapur..
Bisa dibilang aku selalu menerapkan prinsip ekonomi dalam semua hal, tak terkecuali masakan..

I mean, aku selalu memperhatikan seberapa takaran gula bahkan untuk segelas teh hanya dengan feeling. Padahal aku tau benar bahwa feelingku sama sekali tidak bisa diandalkan untuk urusan satu ini. Dan meskipun sudah tau tentang kebanyakan hasil masakan atau minuman yang cenderung mengecewakan jika kubuat, aku tetep aja keukeuh menggunakan prinsip ekonomi untuk pemberian bahan2nya! Hehe..
Bukannya pelit, tapi udah kebiasaan sih!
Sampai2 nggak ngerasa bahwa itu adalah kebiasaan buruk yang bisa berakibat fatal pada hidupku..
Mungkin aja temenku tadi ngerasa minum teh di rumah makan padang karena di kasi teh tawar..
(Biasanya untuk 200ml teh perlu 1 ½ sdt. dengan asumsi menggunakan teh seduh (poci) karena kadar kepahitannya lebih terasa)

Padahal masalah ini merupakan hal yang tabu bagi seorang wanita..
Karena bagaimanapun, kodratnya adalah seorang yang akan melayani suami dan anak2nya tentunya dengan masakan yang sangat menggugah selera..
Hingga sayang jika harus pergi jajan keluar hanya untuk mencari makan..

Tapi kalo ngliat keadaanku sekarang, pasti suamiku (seandainya punya) ngomong..
Cari makan di luar aja yuk, aku lagi pengen suasana baru. Lagian kasian kalo masak ntar kamu kecapekan
Padahal maksudnya, mending beli makanan dari luar aja deh, habis masakanmu nggak enak sih. Atau mending minta Mbok Tum yang masakin
Hiks, bahkan kedudukanku sebagai istri pun tergantikan oleh pembantu!
Sungguh menyedihkan..
Kalo gitu, kenapa dari dulu nggak nikah sama mbok tum aja! Hehe..ngawur!


Yang jelas aku ngiri sama ibuku yang multitalented (kecuali matematika)
Masakannya itu loh, bikin aku betah makan dirumah (dasar..anak rumahan)
Makanya jangan harap aku bakal kasi kamu banyak rekomendasi tempat makan yang enak plus murah meriah!
Karena yang namanya makanan selalu tersedia di atas meja makan, dan aku termasuk anak yang males jajan (ya iyalah, udah dimasakin juga)
Tapi kalo soal taste, menurutku lidahku ini nggak pernah salah menilai mana makanan yang enak atau paling nggak layak dikonsumsi..
Makanya itu aku bisa langsung tau kalo hasil masakanku sering sekali disappointed!

Terakhir masak aku malah dimarahin ibuku..
Niatnya sih mulia, pengen bantuin tapi apa daya lagi2 keahlian kalkulasiku bermain tanpa ku perintah..
“Yaa..ampun, gimana bisa gurih kalo kamu ngasih garamnya cuma seiprit! Gini loh mbak tak ajari, bla.. bla.. bla..”
Oh yes, finally masakan pun jadi diiiringi dengan petuah2 ibuku termasuk cerita tentang kebiasaannya memasak yang sudah dimulai dari SD”
Pantes!
Ok mom, untuk masakan selanjutnya ku serahkan padamu!
Selanjutnya..dan selanjutnya..
Pokoknya seterusnya! (hehe)

Rabu, 09 Juli 2008

TJ'ers


Bermula dari keinginan terdalamku berkeliling jogja dengan menggunakan TJ (Trans Jogja)
Aku mencuri-curi waktu ditengah sibuknya himpitan pekerjaan dan kondisi badan yang semakin payah! Halah!
Hari itu hari Minggu yang damai..
Sangat nyaman untuk bersantai setelah lelah merajai semingguan..
Seperti yang kulakukan dengan kedua adikku..
Kami berencana untuk berjalan2 ringan mengelilingi jogja..
Kami memilih Malioboro sebagai tujuan perjalanan kami..
Dengan asumsi, di sana kami bisa berjalan2 santai, cuci mata, sekaligus mencari spot2 yang bagus untuk mengabadikan momen2 tersebut dalam sebuah gambar (baca: foto)
Hmm..perjalanan yang murah meriah dan tentunya menyenangkan!
What a great plan!

Ternyata asumsiku salah!
Kenyataan selalu tak seindah harapan..
Yang pada awalnya aku membuat persamaan..

Liburan + TJ + Malioboro + JJS = Sehat (jasmani dan rohani)

Menjadi..

(niat) liburan + TJ + Malioboro + Capek + Nyasar = Kanker!


Huh..aku salah perhitungan!
Aku lupa kalo sekarang lagi masanya liburan besar (selain idul fitri)
Saking ngebetnya naik TJ (karena penasaran), ternyata waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Malioboro adalah 2 jam! Macet!
Siput aja nggak selambat itu kali pas lomba lari bareng kelinci! Dia cuman butuh waktu sejam untuk mencapai garis finish.. (hehe..ngarang!)
Yahh..tapi pelayanannya cukup memuaskan..
Sedikit lebih manusiawi jika dibandingkan dengan bus2 di negara2 asia timur..
Jadi inget kata mbak Icha (IE 05) yang sempet belajar di Korsel, katanya bis2 di sana itu seolah raja..
Nggak peduli ada penumpang yang butuh banget tebengan, dia tetep ngloyor pergi kalo emang udah waktunya..
Hmm..siapa butuh, hendaklah berdisiplin! Nice motto!
Beda banget sama bis2 sini yang rebutan penumpang, malahan ikhlas mengeluarkan segala bentuk umpatan dan bacokan demi mengejar setoran.. Serius!
Aku pernah liat adegan perkelahian hanya demi seorang penumpang! Aduh2..

Balik lagi ke topik..
Setelah cukup puas memandangi interior TJ selama hampir 2 jam, kami turun di shelter Taman pintar..
Yap, taman yang dibuat semenarik mungkin dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas permainan yang edukatif, sehingga sangat menarik perhatian!
Sungguh konseptor yang brilliant!
Unlucky, aku lupa lagi kalo ini minggu!
Dan tempat semenarik ini pastilah ramai dikunjungi dan tentunya anak2!
Si ibu sama bapak pasti sudah memplanning dari jauh2 hari untuk dapat mengajak buah hati tercintanya pergi berekreasi ke tempat yang cihuy tapi irit ongkos ini..
Dengan kuyu (efek dari kelamaan duduk di TJ juga sih) kami melangkahkan kaki masuk ke halaman taman..
Berharap masih ada tempat tersisa bagi kami para remaja yang sepertinya lebih cocok nongkrong di mall atau nonton bioskop..
Gpp lah, aku juga anak kecil (gitu pikirku) hehe!
Dari jauh, riuh keceriaan dan gelak tawa anak2 menyambut kedatangan kami..
Dan saat itulah, kami benar2 tersadar bahwa memang tidak ada lagi ruang bagi kami..
Salah tempat! Hiks!

Akhirnya kami ngungsi ke gedung sebelah (Vredeburg)..
Kami yakin di sana pastilah lebih adem ayem ketimbang hiruk pikuk yang terjadi di taman sebelah yang udah mirip TK..
Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik berkunjung kesana, apalagi saat itu sedang ada semacam opening ceremony konvoi motor matic sejogja.. Polusinya bow!
Lagian sudah lupa juga apa saja yang berada dalam benteng tua itu.. hehe!
Nggak disangka, Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang notabene diadakan di Vredeburg ternyata belum berakhir..
Hanya saja animonya kurang begitu bagus..
Mungkin karena telah memasuki hari2 terakhir dari rangkaian kegiatannya..
Tidak terlalu peduli dengan FKY, kami memutuskan untuk menjelajah benteng..
Bermodalkan kamera N3230 dengan resolusi 1,3 megapixel, kami mengabadikan sudut demi sudut benteng yang tampaknya masih kokoh berdiri, paling tidak untuk seabad lagi..
Cukup puas dengan hasil2 jepretan, kami melanjutkan perjalanan ke pasar beringharjo..
Niatnya sih cuman nemenin adekku belanja, tapi dasar naluri wanita yang nggak bisa diem ngliat barang bagus, so akhirnya ikutan nimbrung deh.. hehe!

Menjelang sore, kami memutuskan untuk pulang..
Tapi berhubung antrian penumpang di shelter begitu padat, kami memilih menggunakan bis jalur 4..
Dengan pikiran bus tersebut akan membawa kami melewati MM UGM kemudian dari situ kami akan pindah jalur ke arah kaliurang dengan menggunakan angkot..
“Ayo naik!” Perintahku kepada kedua orang adikku yang sepertinya mulai kecapean..
Masih dengan keyakinan bis akan membawa kami ke rute yang seharusnya..
Tapi tahukah anda, jika ternyata bis jalur 4 memiliki 2 rute!
Dan untuk yang satu itu, aku betul2 tidak tahu!
Atau setidaknya, dari dulu aku hanya tahu bahwa rute bus tersebut memang hanya ada 1, dan tentunya akan melewati kampus UGM.. (menurut pengalamanku)
Hh..sial, ternyata bus yang kami naiki akan membawa kami ke terminal giwangan!
Sungguh rute yang sangat kontras, mengingat rumah kami yang terletak di puncak gunung nun jauh di sana!
Dengan cepat kami turun, sebelum bus membawa kami lebih jauh lagi..
Adanya kejadian nyasar tadi, membuat kami nyaris saja tidak bisa pulang ke rumah..
Pasalnya, uang kami terbatas.. Sudah ludes buat sana-sini tadi..
Fiuhh..sungguh setengah hari yang melelahkan tapi berkesan!


Tips buat anda2 yang ingin berjalan2 atau bertamasya :
Ajaklah orang2 yang dapat mengemudikan kendaraan, minimal sepeda (karena kedua adikku tadi nggak bisa naik motor so mau nggak mau harus naik bis, masa cenglu!) atau paling tidak ajak orang yang anda kenal memiliki kelebihan uang saku agar anda terjamin di saat2 darurat (nyasar). jika tidak mengikuti anjuran tersebut, niscaya jalan-jalan sehat yang anda rencanakan malah akan membuat anda menderita kanker (kantong kering), serius!

Senin, 30 Juni 2008

Be Profesional or entrepreneur?

Assalamualaikum Indonesia!
Halu2..ketemu lagi bareng Nida di sini..
Hoho, kangennya! Udah lama nggak posting..

Well, as my promise at my previous post..
Aku bakal menelurkan gagasan2 brilliant buat kemajuan pertanian Indonesia!
Tokcer abislah pokoknya!

Masalahnya.. ternyata hingga kini aku belum bisa mendapatkan ide2 revolusioner tersebut!
Hehe..sekali lagi mav ya pemirsa, secara aku juga nggak bo’ong khan?
Wong aku nulisnya, ‘bakal’ koq.. (liat tulisanku di atas)
So bisa kapan2, tergantung selera! hehe..
Yahh..kita doakan saja, semoga moodku selalu bagus..

Masih dengan topik yang sama.. (biar pemirsa g terlalu kecewa)
Belum lama ini aku sempet berbincang2 dengan Didi (manajemen 06)
Sebenarnya bukan dia objek dimana aku pengen crita..
Tapi saat itu, memang hanya dia mahluk yang tersedia.. so, nekad aja lah ngomong, drpd nggak!
Mudah2an dia mudenk.. (mav ya Di)


Jadi, saat itu aku bercerita tentang keinginanku utk menjadi seorang petani (modern tentunya)
Dan aku menjelaskan sedemikian rupa saat dia mulai ngerasa aneh dgn pernyataan2 yang kubuat..
Secara dia mengherankan aku yang berstatus calon akuntan koq malah banting setir pgn jadi petani??
But guess, what was happened?
Dia mengerti, alhamdulillah..
Bahkan dia punya pikiran yang sama (ntah dari dulu ato baru muncul setelah aku crita panjang lebar)
Dengan semangatnya, kita punya rencana buat mendirikan lahan2 pertanian modern di sekitaran Jawa Barat, Malang dan Jawa Tengah (khususnya daerah Dieng)
Mbayangin bisa menciptakan lapangan pekerjaan dengan memberdayakan orang2 di sekitarnya, tentunya dengan penghidupan yang lebih layak (namanya juga petani modern)
So, mereka juga enggan melakukan urbanisasi..
Yahh..toh di desanya mereka sudah bisa hidup sejahtera, jd ngapain harus mengadu nasib ke kota? (begitu pikirku)

Nggak cuma itu, selain bisa memeratakan kesejahteraan masyarakat.. Dengan asumsi kontinuitas, perubahan tersebut juga menurunkan tingkat kriminalitas di perkotaan, meminimalisir timbulnya slum area, menurunkan kepadatan penduduk dan mencegah global warming! (akibat polusi)

Nah..nah, hebat juga toh ideku?
Hanya dengan satu solusi “Hidupkan Pertanian Indonesia!”, maka masalah2 yang notabene merupakan dedengkotnya semua masalah di Indonesia bisa di atasi..
Hmm..sepertinya pak mentri harus ngrekrut aku nih! Biar Indonesia cepet berkembang!
Secara anak brilliant kayak aku mesti dilestarikan dunks!

Hoho, ternyata doa kalian cukup manjur..
Terbukti moodku sekarang langsung membaik, so bener2 bisa menelurkan gagasan cemerlang!
Tapi yang namanya cita2, nggak semudah itu diraih..
Ide tadi masih berupa fantasiku pribadi yang aku harap secepatnya bisa jadi kenyataan, amin!
Tentunya aku lebih senang jika ada manusia2 lain yang menaruh hati juga pada masalah ini..

Sepertinya harus kutangguhkan dulu keinginanku untuk menjadi entrepreneur..
Mencari modal untuk cita2 terdalam dengan menjadi seorang profesional terlebih dulu, sepertinya tidak buruk..
Itu keputusanku Mas..
Semoga saja suatu saat nanti, amin!
Tunggu aku Indonesia!! ^^

Mas, refers to Moh.Rizal (akuntansi 05). Dialah orang kedua yang menjadi objek curhatku mengenai keinginanku menjadi seorang entrepreneur. Sempet mencak2 juga dia karna waktu itu aku crita kalo betapa membosankannya belajar akuntansi! Hehe..just relax bro, am surely know what am doing.. Salut buat usahanya meyakinkan diriku yang super ngeyel ini, I love accounting!! (hueks)

Rabu, 25 Juni 2008

Petaniku Sayang, Petaniku Malang

Suatu hari aku ngobrol sama adekku.. (tumben)
Aku mengeluhkan lahan sawah di sepanjang Jalan Kaliurang (jakal) yang sepertinya semakin sempit..
Terutama daerah kilometer atas yang sampai saat ini fungsi terpenting lahan tersebut masih sebagai penghasil devisa masyarakat sekitar..
Dan yang nggak kalah penting, lahan tersebut menjadi jalur resapan air ketika hujan mengguyur lereng merapi..

Penting banget khan?
Makanya aku was2 dengan pembangunan demi pembangunan yang semena2 berdiri di atas lahan2 tersebut..
Secara bukan aku dan masyarakat sekitar jakal aja yang ngrasain dampaknya..
Tapi juga masyarakat jogja bagian selatan yang bakal ngrasain banjir akibat air hujan yang tidak dapat teresap dengan baik oleh kawasan pegunungan (dalam hal ini termasuk sekitar jakal)

Kita juga bingung mikirin nasib para petani yang lahan pekerjaannya hampir musnah!
Kebanyakan dari mereka bukanlah kaum terpelajar..
Mempunyai lahan pertanian pun biasanya hanya karena warisan orang tua atau bahkan sekedar menggarap sawah punya orang lain..
Rendahnya logika yang dimiliki juga membuat keberadaan mereka semakin terancam..
Dengan mudahnya mereka melakukan deal dengan para pembeli tanah yang sebagian besar adalah kaum yang ahli banget ngrayu!
Dan dapat dipastikan, lahan tersebut juga hanya dihargai murah, mengingat mereka menganut “profit oriented”
Kalau sudah begitu, mau diapakan lagi?

Ugh..bete rasanya harus mbayangin mata pencaharian terpenting di Indonesia ini bakal punah!
Aku sengaja menekankan kata tersebut supaya kita sadar bahwa hajat hidup kita yang paling penting (baca : pangan) sebenarnya dikuasai oleh petani..
Maksutku kita tidak boleh menyepelekan hal tersebut..
Mau nggak mau, suka nggak suka, kita harus melindungi mata pencaharian tersebut dengan cara ikut melestarikan medianya juga (baca lagi : lahan pertanian)
Nasib kita di tangan para petani..
Kalo nggak, makan apa kita?

Jangan protes dulu..
Kalian mbayangin gimana repotnya dulu sih!
Padahal manfaatnya jauh lebih besar kalo kita mau concern mengenai hal tersebut loh..


Ancaman nggak cuma datang dari para kontraktor aja..
Tapi juga dari intern para petani yang menginginkan penerusnya kelak tidak bernasib seperti dirinya..
Mereka ingin buah hatinya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih terhormat agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak..
Kenyataan mengapa timbul banyak daerah kumuh di perkotaan dan munculnya para gembel adalah karena mindset si anak petani yang menerima mentah2 bahwa pekerjaan orang tuanya tidak menjanjikan kesejahteraan..
Mereka merantau dengan harapan bisa mengubah hidupnya ke arah yang lebih baik, tentunya dengan bekal seadanya..
Parahnya, harapan indah tersebut harus sirna..
Mereka harus mengakui bahwa di kota, kaum intelektual lah yang lebih berkuasa!


Sayang sekali, kenyataan bahwa para petani malah menganggap rendah mata pencaharian yang telah menghidupi mereka selama bertahun-tahun..
Padahal menurutku pekerjaan mereka sangatlah mulia..
Kadang aku takzim sendiri karna bisa menikmati makanan, buah dari hasil kerja keras dan kesabaran mereka..


Hm..sepertinya aku tertarik buat jadi petani..
Kalo nggak ada yang mau, aku juga gpp..
Tapi aku pengen jadi petani modern! (hehe..petani juga bisa berevolusi loh)
Aku nggak mau lahanku dijajah dengan alasan untuk menyejahterakan masyarakat melalui pembangunan sektor riil yang berkesinambungan..
Beh..gombal!

Aku nggak mau tertipu!
Akan kubuktikan bahwa kehidupan petani lebih penting dari apapun juga!
Caranya??


Krik..krik.. (mikir)




Krik..krik..krik.. (masih mikir)









(Masih tetep) kriiiikkkkkkkkkk…..

Hehe, ternyata aku juga belum punya ide brilliant! (maap pemirsa)
Eh, tapi cita2ku itu bukan hanya keinginan belaka loh..
Suatu saat nanti..
Di saat aku telah cukup memiliki modal untuk membangun pertanian modern!
Akan kubuat petani Indonesia sejahtera!
Hingga tak ada yang berani mengganggu kelangsungan hidup kami!
Just wait and see!

To be continued.. (nantikan postinganku berikutnya) ^^

Senin, 23 Juni 2008

Perfect Man (Best I Ever Had)

Kuucap kata ini selagi masih sempat
Kuungkap kata ini selagi masih ingat
Mungkin saat sudah terlambat
Tapi takkan kulupakan
Rangkai kata yang selalu indah
I Love You..


For you always “Dad”

Minggu, 22 Juni 2008

Untuk Semangat Yang Tak Pernah Pudar

Berlarilah hingga kelelahan lelah mengejarmu..

Kapan kamu pernah merasa dunia ini tidak adil? Seberapa sering kamu mengeluh? Atau paling tidak, kapan kamu mulai bosan dan cepat merasakan lelah yang teramat sangat (depresi)?

Semua pasti memiliki jawabannya sendiri. Kadar ketahanan terhadap stres bagi tiap2 orang juga berbeda. Dan semuanya tidak dapat disalahkan. Tergantung dari pribadi masing2 yang sebenarnya juga sangat rentan terbentuk oleh kehidupan yang selama ini dijalaninya.

Begitu pula hidup manusia, tidak semulus jalan beraspal (apa hubungannya?).
Akhir2 ini manusia2 di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, sedang disibukkan dengan persiapan penyambutan maba (baca: mahasiswa baru not mahasiswa bangkotan). Yaah..walaupun dalam perjalanannya kurang mendapat respon karena adanya perubahan kebijakan mengenai perploncoan yang selama ini dinilai kurang edukatif oleh para empunya universitas. Terlepas dari semua, ada satu hal yang terlupakan. Sebenarnya terlalu banyak hal, tapi dalam tulisan ini, aku ingin menyederhanakannya agar selaras dengan topik yang sedang kuangkat.

Ujian masuk (UM-UGM) bisa jadi merupakan salah satu event tahunan terfavorit. Mengalahkan rating Indonesian Idol atau 4 mata (mungkin!), mengingat bertambahnya peminat dari tahun ke tahun. Hanya saja, keberadaannya bisa menjadi musibah tatkala hasil yang keluar tidak sesuai dengan harapan. Belum lagi jika ternyata impian untuk dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya sementara tertunda, karena harus mengulang pendidikan dalam level yang sama sekali lagi. Sungguh tragis.

Aku sendiri pun bukannya dengan mudah mendapatkan apa yang kuinginkan. Berjuang hingga akhirnya gagal, kemudian berjuang lagi dan akhirnya harus gagal lagi. Pola seperti itu lebih sering kudapatkan. Berkali2 merasakan pupusnya harapan, terkadang bingung sendiri, pusing sendiri, bahkan semuanya pun harus dikerjakan sendiri. Setelah merasa seperti itu, rasanya sunggguh tidak adil jika apa yang sedang kuperjuangkan ternyata enggan menghampiriku. Kurang lebih, seperti itulah pikiran manusia ketika dirinya merasa tidak senang.

Perasaan yang kusebut kufur nikmat itu benar2 menyiksa dan jika dibiarkan terlalu lama bisa menjadi penyakit hati yang sangat mematikan! Kepribadianmu bisa berubah 180° akibat emosi yang tidak lagi wajar akibat keputusasaan.

Seringnya kita berpikir telah menjadi manusia paling malang sedunia. Seakan2 dunia runtuh dan kita tidak bisa berbuat apa2 karenanya. Sedangkan ego masih melekat, terus saja menyalahkan, hingga yang tersisa hanyalah dengki.

Bagaimanapun seorang manusia memang hanyalah manusia. Kita tidak bisa menyalahkan segala sesuatu yang terjadi di luar kehendak kita. Manusia bisa berencana dan berusaha, tapi ada yang lebih berkuasa atas kita dan semua itu tidak dapat diganggu gugat. Jangan pernah merasa dirimu adalah mahluk paling nelangsa. Kita tidak tahu, bahwa mungkin saja manusia2 yang kita temui di setiap harinya memiliki masalah yang jauh lebih rumit. Hanya saja manusia terlalu egois untuk menyadari kesusahan saudaranya karena terlalu sibuk dengan urusan duniawinya. Yakinlah, di sana telah terdapat Dzat yang lebih mengetahui apa yang terbaik untukmu.

Bersyukurlah.
Untuk setiap nafas yang kau hirup..
Untuk setiap kasih sayang yang selalu tercurah dari ibumu..
Untuk setiap tetes keringat yang keluar karena usahamu..
Untuk setiap doa yang terucap..
Dan untuk semangat yang tak pernah pudar hingga kau menjadi sabar karenanya..